Jumat, 05 Agustus 2022

Jembatan Cikacepit & Cipambokongan

 

Jembatan Cikacepit & Cipambokongan


Besi bantalan rel di dua jembatan kereta api eks jalur Banjar - Cijulang, yakni jembatan Cikacepit dan jembatan Cipambokongan Kecamatan Kalipucang Kabupaten Pangandaran hilang.

Bahkan untuk jembatan Cipambokongan tak hanya besi bantalan relnya saja yang hilang, namun besi rangka jembatan pun ikut hilang. Sehingga tinggal menyisakan kontruksi betonnya saja.

Salah seorang polisi khusus cagar budaya, mengatakan belum lama ini dia mendampingi kegiatan penelitian yang dilakukan oleh balai arkeologi Jawa Barat dan PT. KAI.

"Ya kami mendampingi kegiatan penelitian belum lama ini, menyusuri aset-aset peninggalan jalur kereta api Banjar - Cijulang.

Dia juga membenarkan bahwa bantalan rel jembatan Cikacepit  yang berlokasi di Desa Kalipucang sudah hilang. Sementara jembatan Cipambokongan bantalan rel dan rangka besi penyangga jembatan juga sudah habis.


"Kalau jembatan Cikacepit masih ada rangkanya, jadi wujud jembatannya masih terlihat walaupun bantalan relnya hilang. Kalau Cipambokongan habis semua, tinggal kontruksi betonnya saja.

Dia memaparkan dari penelitian itu terungkap bahwa pada tahun 1995 PT. KAI melakukan pemeriksaan atau inspeksi aset, jembatan itu masih utuh. Bantalan rel dan rangka besi kedua jembatan itu masih ada.

"Jadi keterangan dari PT. KAI paada tahun 1995 jembatan itu masih utuh. Kemudian terjadi reformasi dan krisis moneter, pada tahun 1998 mulai diketahui banyak yang hilang," kata Haris.

Gangguan stabilitas keamanan dan ekonomi pada saat itu diduga dimanfaatkan oleh oknum tak bertanggung jawab untuk mencuri besi jembatan kereta tersebut. "Dugaan kami ini dilakukan oleh oknum," katanya.

Dia mengatakan pihak yang mengambil besi jembatan dipastikan orang yang mengerti kontruksi jembatan kereta api.

"Ya pasti dilakukan oleh mereka yang mengerti dunia kontruksi. Karena kalau dilakukan serampangan dan sampai salah melepas baut, jembatan bisa ambruk," katanya.

Dia juga menduga pencurian tak dilakukan dengan alat sederhana atau cukup bermodal gergaji besi.

"Wah bukan pakai gergaji, gak akan kuat besi rel digergaji manual," katanya.

Dia mengatakan berdasarkan keterangan warga, pengambilan besi pada waktu itu juga mendapat penjagaan dari pihak tertentu sehingga warga pun hanya bisa menyaksikan.

Lebih lanjut Dia juga mengatakan taksiran nilai aset besi yang hilang itu mencapai Rp 3 miliar lebih. Menurutnya, besi rel adalah besi kualitas grade A atau besi baja. Harganya sekitar Rp 5 ribu/kilogram. Sementara estimasi berat rel yang membentang di jembatan Cikacepit sekitar 698 ton.

"Itu baru perhitungan jembatan Cikacepit, kalau ditambah jembatan Cipambokongan ya bisa dua kali lipat, karena habis dengan besi rangkanya. Walaupun kalau besi rangka jembatan itu lebih murah dari besi rel," paparnya.

Dia mengatakan jembatan Cikacepit dan Cipambokongan ini telah ditetapkan menjadi cagar budaya. Jembatan Cikacepit memiliki panjang 310 meter dan tinggi 38 meter. Jembatan yang dibangun Belanda sekitar tahun 1913 - 1916 ini melintas diantara perbukitan.

Sementara jembatan Cipambokongan memiliki panjang sekitar 299 meter dan tinggi 40 meter. Jembatan ini berada di sekitar perbukitan pantai Karangnini Desa Emplak Kecamatan Kalipucang Pangandaran.*

Pangandaran Masa Hindia Belanda

 Pangandaran Masa Hindia Belanda



"Kawasan terbersih di Pantai Selatan Jawa.  Untuk mencapainya dari Banjar dengan kereta api dengan mobil. Sementara dari Cilacap Anda bisa menggunakan perahu motor melewati Nusa Kambangan dan desa-desa panggung ke Sungai Kalipucang. Perjalanan kereta api yang paling megah sambil menyaksikan keindahan alam, terowongan yang mewah dan jembatan yang kokoh.

Di sana terdapat monumen alam dan taman hewan antara Dirk de Vries dan Mauritsbaai di dekat hotel. Pantai yang luas, laut yang tenang, gua dan atraksi lainnya, tenang dan sehat, akomodasi liburan yang indah untuk tua dan muda, harga yang adil".

Demikian iklan bertajuk "Badhotel Pangandaran" dimuat dalam "Preanger Bode" 30 Mei 1923.

Sejak  masa Hindia Belanda, Pangandaran menjadi tempat wisata tersembunyi di pantai selatan Priangan karena keterpencilannya. Nama Penanjung, Parigi, Kalipucang di wilayah Pangandaran itu sudah mulai disebut pada awal abad ke 20.

Teluk Penanjung disebut dalam buku  "Onderzoek naar de oorzaken van de mindere welvaart der inlandsche bevolking op Java et Madoera, terbitan 1905 tentang budi daya ikan. Residen Preanger (waktu itu dijabat Gustaaf Adolf Frederik Jan Oosthout: 1903--1907) memberikan catatan bahwa dekat muara sungai lebar di Teluk Penanjung, kawasan Sukapura (masa itu Pangandaran masuk Sukapura)  terdapat kelimpahan ikan yang cocok untuk pemancingan terutama masa musim timur. Tambak alami bisa diciptakan dengan cara membendung air laut.  

Namun akses utama baru dimulai dengan pembangunan jalur kereta api Banjar-Kalipucang-Parigi pada Juli 1913, sekalipun pada 1909 telah dilaksanakan pengukuran pada jalur tersebut.

Menurut informasi dari KAI. Heritage dalam tulisannya "Jalur Keretapai Banjar Pangnadaran Cijulang, Pembangunan jalur ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian 1) Banjar-Kalipucang dan bagian 2) Kalipucang-Parigi, dengan total keseluruhan sepanjang 82,5 km yang dipimpin oleh Ir. J. K. Lagerway.

Wilayah Banjar-Kalipucang merupakan daerah dataran sedangkan Kalipucang-Parigi merupakan daerah pegunungan. Jalur Banjar-Kalipucang rampung pada  15 Desember 1916 dan dapat dibuka untuk eksploitasi umum.

Jalur tersebut memang diprioritaskan selesai terlebih dahulu mengingat daerah yang dilewati lebih potensial dibandingkan daerah yang dilewati jalur bagian kedua. Pada awal pengoperasian jalur Banjar-Cijulang tersedia dua kali aktivitas pengangkutan kereta api.

Tahun 1918 pembangunan bagian kedua dapat diselesaikan. Dalam rencana semula, Parigi merupakan titik akhir pembangunan. Namun, daerah Parigi kurang cocok sebagai akhir pemberhentian. Akhirnya pemerintah mengusulkan menambah ujung akhir jalur menuju Cijulang sepanjang 5 kilometer.


Ilustrasi-Foto

Cijulang dianggap strategis karena memiliki lembah unik yang dapat meneruskan lajur sampai ke Tasikmalaya atau sepanjang pantai selatan . Pembangunan ke Cijulang selesai  pada 1921 dan dapat digunakan 1 Juni 1921.

Pada jalur Banjar-Cijulang dibangun beberapa terowongan dan jembatan sebagai penghubung. Terowongan yang dibangun antara lain Terowongan Wilhelmina (1.116 m), Hendrik (105), Juliana (147 m), dan Philip (281 m). Sementara itu, dibangun beberapa jembatan di atas Sungai Cipamotan (310 m), Sungai Cipembokongan (299 m) dan Sungai Kabuyutan (176 m). Ketiga bahan material untuk pembangunan jembatan dilakukan melalui Pelabuhan Cilacap.

Terowongan yang terkenal di lintas ini ialah Terowongan Wilhemina yang mulai dibangun pada Februari 1913 dengan menembus Gunung Kendeng. Pembangunan terowongan merupakan solusi alternatif yang diambil insinyur dinas kereta api Staatsspoor (SS) bernama J.K. Lagerwey dalam upayanya menghubungkan jalur kereta api dari Kalipucang menuju Lembah Parigi.

Adapun teknis pembangunan terowongan di ketinggian 58 meter di atas permukaan laut itu dengan cara menggali tanah secara bersamaan pada setiap sisi barat dan timur mulut terowongan. Cara ini sama dengan yang dilakukan dalam pembangunan Terowongan Sasaksaat pada lintas Cikampek-Padalarang.

Penggalian lubang terowongan sejauh 1,1 kilometer itu menemui hambatan berupa batuan andesit yang berada di dalam gunung. Setelah berusaha memecah batuan dengan bor tangan, akhirnya terowongan dapat selesai seluruhnya pada 1916 dan mulai diresmikan penggunaannya sejak 1 Juni 1921. Untuk mengenang jasa ratu Belanda yang berkuasa ketika itu, nama Ratu Wilhelmina diabadikan sebagai nama terowongan.

Laporan perjalanan yang saya temukan dimuat di "Preanger Bode" 25 Agustus 1920 bertajuk "In De Zuid-Oost Preanger" dengan penulis berinisial Slot Volgt  menulis perjalanannya lewat Kapal Soekapoera yang berangkat dari Pelabuhan Cilacap pada pukul sepuluh lagi.

Slot, Sang Penulis berangkat dari Cilcacap sekitar pukul sepuluh pagi dengan menggunakan kapal Soekapoera. Kapal  itu digambarkan mempunyai bangku-bangku dengan terpal untuk meindungi penupang dari terik matahari.

Dia merupakan satu-satunya orang Eropa yang berangkat waktu itu. Slot menceritakan banyak kapal-kapal penangkap ikan di pantai. Berarti masa itu sudah banyak nelayan di Pantai Cilacap. Bau terasi tercium olehnya begitu tajam dibawa oleh angin yang cukup kencang. Laporan ini secara tak langsung mengungkapkan kehidupan kuliner sudah marak waktu itu.

Dari kesaksian Slot, sudah kilang minyak  di Cilaca dan dia melihat panorama bagian dari  Nusa Kambangan di mana  terdapat beberapa rumah, kebun pisang dan pekerja paksa dan penjaga. Dia melihat panorama pohon nipa (sejenis palem) dan bakau di tepi pantai yang digoyang oleh hembusan angin dan menimbulkan riak-riak di atas air.

Sekitar satu setengah jam perjalanan, Slot menyaksikan pemandangan sbeuah desa nelayan dengan rumah-rumah panggung yang tampak suram dan di sana ada jembatan untuk menghubungkan dengan perahu-perahu yang ditambatkan.

"Kita seperti melihat film di bioskop (pada waktu itu sudah ada)  begitu banyak bidikan alam dari negeri yang jauh di mana kita tidak akan pernah pergi, dan di sini di dekat kita ada pemandangan alam yang begitu indah, menunggu untuk ditangkap oleh operator film."

Dalam laporan perjalanan itu disbeutkan beberapa lokasi seperti Desa Klaces, masih dalam wilayah Cilacap, Muara Citanduy, Muara Ciseel, Nusa Were (Nusa Wiru) dan melewati Teluk Maurits, Pananjung.

Sang Penulis turun  ke sekoci dengan 5 atau 6 orang pendayung. Begitu  tiba di Pananjung kemudian mencari pasanggrahan yang disebut dalam tulisan itu milik Pemerintah Hindia Belanda. Dia melihat sebuah tanjung yang  dipisahkan dari dataran utama antara dua teluk dengan jalan tanah yang lebarnya hanya sekitar dua ratus meter. 

"Hebat! Ada tebing kapur menjulang di depan pasanggrahan. Di sebelah kanan, sebuah tanjung menunjuk ke laut, benar-benar tenggelam, dimahkotai dengan sebuah pondok, di mana banyak pegawai negeri yang lelah mencoba melupakan kekhawatirannya dengan pancing di tangan,"  ucap Slot dalam tulisannya.

Pepohonan yang lebat menutupi bebatuan, gua dengan air yang menetes dari langit-langit menciptakan batu kapur bergerigi dan kolam berbentuk gajah. Namun untuk menjelajah  gua itu dibutuhkan pemandu dengan obor. Di gua masih ada kelelawar yang segera terbang menjauh begitu ada yang memasuki gua.

Slot mengungkapkan sudah ada jalur trem yang dimulai dari Banjar dan sudah beroperasi ke Kalipucang. Jalur itu melewati Parigi dan Cijulang.  Terdapat juga hotel sederhana namun rapi, kantor konstruksi Banjar-Cijulang, dengan insinyur berkebangsaan Ceko-Slowakia. 

Menurut kesaksian, terdapat sebuah rumah sakit berdiri dengan dokter pribumi mengadakan rawat jalan beberapa kali seminggu untuk merawat pekerja yang terluka. Pada masa itu penyakit malaria masih menjadi masalah bagi mereka yang tinggal di Pangandaran.

Sebagai catatan, perusahaan transportasi dan perdagangan Soekapoera sudah melayani rute Cilacap-Pangandaran jauh sebelum ini. "Bataviaasch Nieuwsblad" edisi 7 Desember 1918 sekalipun memberitakan soal biaya pemeliharaan kapal. Namun juga memuat informasi bahwakapal uap melayani perjalanan dua kali seminggu dan sudah hadir paling tidak sejak Januari 1915.


Pananjung-Foto

Setelah adanya transportasi kereta api hadir.  Ada beberapa laporan  perjalanan lagi, di antaranya  di yang ditulis Reisma bertajuk "From Bandjar to Parigi"  yang dimuat dalam "Van Stockum's Traveller Handbook", Dutch East Indie, 1930 melukiskan perjalanan wisata pada masa Hindia Belanda.

Reisma melukiskan perjalanan menuju Parigi menempuh perjalanan dari Banjar menggunakan jalur kereta api  ke arah Maos (Cilacap). Perjalanan melalui pemandangan yang kurang menarik karena melewati daerah berawa.  Dia memutuskan singgah di Parigi dengan bantuan Bupati Tasikmalaya.

"Ada sebuah pesanggrahan yang baik di Semenanjung Penanjung, sebuah tanah genting yang berbatasan dengan Teluk Dirk de Vries dan Teluk Maurits. Pangandaran beberapa gua kapur yang mempersona  dan pemandian laut yang baik,"  ujar Reisma

Dalam tulisan lain  yang dimuat dalam "Zwerftochten door Indie" terbitan 1941  Reisma menceritakan perjalanan berikutnya ke Pangandaran dengan menggunakan kereta api dari Banjar ke Parigi.  Dia menyaksikan rumah panggung nelayan di Kalipucang  dan melewati panorama bebatuan dekat pantai.

Semenanjung pegunungan Pangandaran berhutan lebat dan dinyatakan sebagai monumen alam dan rumah bagi para banteng.  Semenanjung ini terhubung ke daratan oleh sebidang tanah berpasir yang sempit, di mana para insinyur kereta api mendirikan gedung dari kayu .

Teluk Dirk de Vries (salah satu bagian dari pantai Pangandaran masa itu) terletak seratus meter di depan galeri akomodasi tamu. Seratus meter di belakang  pesanggrahan, Samudra Hindia mendorong ombaknya di sepanjang tanjung ke Teluk Maurits..

"Anda bisa mandi di kedua sisi pasanggrahan dan membiarkan ombak besar menghantam pasir putih.  Di Pangandaran ombak menghempas bebatuan. Betapa indahnya, dari pasanggrahan untuk melihat ombak besar yang melaju kencang, tidak pernah berakhir, ke pantai selatan Jawa, sementara  di luar terdapat hutan bakau dan pegunungan yang  menjulang," paparnya.

Para pelancong bisa menikmati matahari terbit dalam nuansa lembut dari Teluk Maurits pada  pagi hari dan melihatnya terbenam dalam warna-warna cerah di malam hari. Reisma menyatakan kawasan ini seperti surga bahkan di atas Biarritz (kota pantai di Prancis waktu itu).

Reisma mengatakan, para pelacong  membeli hasil tangkapan nelayan berupa cumi-cumi dan hiu martil kecil  Tidak ada radio dan surat kabar, tetapi mereka menyatu dengan alam dan sangat bahagia.  Di Pangandaran, kadang rusa turun dan bermain dengan bayangan mereka di pantai, tetapi tiba-tiba menghilang saat para nelayan bergerak hampir tanpa suara ke perahu mereka

Pada  1922, Residen Priangan  August Johan Herman Eijken (menjabat pada 1921--1925) menjadikan  Pananjung sebagai  taman baru, pada saat melepaskan seekor banteng jantan, tiga ekor sapi betina dan beberapa ekor rusa.

"Preanger Bode" 25 Mei 1922  memberitakan perjalanan Residen Priangan dengan sejumlah pejabat ke Pangandaran melalui kereta api.  Rombongan bermalam di Pesanggarahan bernama Wee Wee untuk kemudian ke Cilacap dengan kapal motor, untuk kembali ke Pangandaran.   Berita itu menyebutkan rencana membuat semacam taman satwa di tanah genting Pananjung. Eyken membeli tanah pertanian di Pananjung, Pangandaran, kemudian memindahkan penduduknya untuk memudahkan rencananya.

Nalurinya benar. Adanya suaka margasatwa itu menjadikan Pangandaran  menarik untuk dikunjungi, terutama mereka yang menyuakai wisata alam. "Preanger Bode" edisi 9 Desember 1922 memuat pemberitahuan  rencana sebuah komunitas wisata  alam akan melakukan tamasya ke semenanjung Pananjung dan Pangadaran saat Natal itu.

Selanjutnya daerah tersebut dikelola sebagai daerah perburuan pada 1931. Masih belum dipahami kebijakan apa yang mendorong tempat yang tadinya  jadi habitat hewan yang nyaman, menjadi tempat perburuan.

Namun pada perkembangan perburuan liar dikhawatirkan menghabiskan hewan. Untuk itu diperlukan tindakan agar habitat keanekaragaman satwa dan jenis -- jenis tanaman langka, dapat terjaga.  Pada Desember 1934 Pananjung dijadikan suaka alam dan marga satwa melalui  sebuah keputusan (Bersluit)  dengan luas 530 Ha (Soerabaijasch Handelsblad, 12 Desember 1934).

Sekalipun sudah jadi tempat wisata, Pangandaran masih terbilang sepi. Hingga 1935 penduduk Pangandaran sekitar  sekitar 20.000 jiwa termasuk 998 orang Cina dan 68 orang Eropa.  Arsip-arsip Belanda mengungkapkan Banjar dan Pangandaran masih jarang penduduknya, meskipun imigrasi di daerah tersebut tinggi.  Di tempat sepi dan  terpencil ini, cikal bakal sebuah tempat wisata telah tercipta, pantai yang bersih dan sebuah suka margasatwa yang cocok bagi mereka yang mencintai alam.





Kamis, 04 Agustus 2022

Situs Batu Kalde

 

Situs Batu Kalde

Situs Batu Kalde merupakan sebuah struktur bangunan Hindu yang terletak di daerah Pananjung, Pangandaran. Pada tempat tersebut, ditemukan balok-balok batu, baik yang masih terkubur di dalam tanah ataupun yang berserakan di permukaan tanah. Selain itu, terdapat arca nandi, yoni, lingga, dan struktur bangunan candi yang masih tertanam di dalam tanah. Pengamatan permukaan yang dilakukan, terdapat sebuah struktur bangunan berupa balok-balok batu yang telah mengalami abrasi air laut, karena situs tersebut kerap terendam air laut di kala pasang. Hal yang menarik adalah di antara onggokan batu-batu terdapat sebuah yoni yang bagian atasnya pecah, arca nandi, dan bagian atas sebuah lapik (pedestal) bulatan cembung di atas bentuk persegi rendah, di sudut-sudutnya dihias dengan bentuk simbar sudut.

Benda-benda tersebut menunjukkan bahwa bangunan yang dahulu berdiri di situs tersebut, tentunya bernafaskan agama Hindu, bahkan disinyalir bangunan tersebut disebut Candi Pananjung. Mengutip laporan perjalanan pendeta Bujangga Manik pada abad ke-15 Masehi, sepulang dari Jawa Tengah dan Timur, disebutkan bahwa ia singgah di suatu desa yang bernama Pananjung yang terletak di awal sebuah tanjung yang menjorok ke laut selatan, sehingga desa tersebut dinamakan Pananjung. Tak menutup kemungkinan jika Bujangga Manik, sang pendeta Hindu Sunda tersebut, pernah berkunjung ke Situs Batu Kalde.

Hasil pengamatan permukaan dinyatakan bahwa bangunan tersebut berdenah bujur sangkar dengan ukuran 12 x 12 meter. Bagian bangunan yang tersisa sekarang terdiri atas tiga lapisan batu. Namun selama pengamatan berlangsung, belum dapat diketahui arah hadapnya, karena tidak ditemukan adanya penampil di salah satu sisinya, sebagaimana halnya pada bangunan candi pada umumnya.

Kemungkinan bangunan Candi Pananjung tidak seperti candi-candi di Jawa Tengah atau Jawa Timur. Hal tersebut dilihat dari ketebalan struktur bangunan, jenis batu-batu, dan juga kedalaman pondasinya. Jika bangunan Candi Pananjung mempunyai atap, kemungkinan dibuat dari bahan yang cepat rusak, misalnya tiang kayu, bambu, serta penutup atap dari ijuk. Menurut penuturan nara sumber local Arca Nandi atau kerap disebut Batu Kalde atau Sapi Gumarang (berukuran 1m x 1m x 0,6 m) merupakan tempat sembahyangnya umat hindu dimasa Kerajaan Pananjung (Galuh Tanduran), Selain itu, terdapat pula 5 buah makam kuno yang diperkirakan makam pembesar Pananjung.

Rabu, 03 Agustus 2022

Pangandaran dahulu merupakan pusat kerajaan

 Pangandaran dahulu merupakan pusat kerajaan

Pangandaran dahulu merupakan pusat kerajaan

Ada cerita rakyat Desa Pananjung, Pengandaran, yang sampai saat ini masih dipercaya sebagian warga di sana. 

Dahulu Pananjung Pangandaran dibuka dan ditempati oleh para nelayan dari Suku Sunda. Para nelayan yang banyak bermukim di Bogor sering kali mencari ikan hingga ke daerah Pangandaran. 

Bahkan tidak sedikit di antara mereka menghabiskan waktu berlama-lama di daerah tersebut hingga berhari hari sebelum kembali ke kampungnya. Para nelayan saat itu lebih memilih Pangandara sebagai daerah untuk mencari ikan lantaran gelombang laut di sana lebih kecil. 

Apalagi Pantai Pangandaran memiliki sebuah daratan yang menjorok ke laut, sekarang menjadi cagar alam atau hutan lindung. Tanjung inilah yang menghambat atau menghalangi gelombang besar untuk sampai ke pantai hingga memudahkan para nelayan mencari ikan. 

Saat itu, para nelayan menjadikan pantai pangandaran sebagai tempat menyimpan perahu yang dalam bahasa sundanya disebut andar. Beberapa waktu kemudian para pendatang mulai banyak bersandar ke tempat ini dan menetap sehingga menjadi sebuah perkampungan yang disebut Pangandaran. 

Pangandaran berasal dari dua buah kata pangan dan daran, pangan berarti makanan dan daran maknanya pendatang. Pangandaran dapat diartikan sebagai sumber makanan para pendatang. 

Asep Nurdin Rosihan Anwar Ketua Pemandu wisata lokal Pangandaran bercerita, sesepuh terdahulu memberi nama desa dengan kata Pananjung yang diambil karena di daerah itu terdapat tanjung dan banyak sekali terdapat daerah keramat di beberapa tempat. "Para sesepuh terdahulu memberi nama Desa Pananjung, karena menurutnya di samping daerah itu terdapat tanjung di daerah inipun banyak sekali terdapat keramat di beberapa tempat. Pananjung artinya dalam bahasa sunda Pangnanjung-nanjungna (paling subur atau paling makmur)," ujar Asep. 

Pananjung berasal dari kata dalam bahasa Sunda 'pangnanjung-nanjungna' (paling subur atau paling makmur). Bahkan menurut dia, Pananjung dahulu merupakan salah satu pusat kerajaan, sejaman dengan kerajaan Galuh Pangauban yang berpusat di Putrapinggan sekira abad XIV M, yaitu pada masa setelah munculnya kerajaan Pajajaran di Pakuan Bogor. 

Hal ini ditandai dengan beberapa candi yang dipercaya dari kerajaan Pananjung di daerah tersebut. Nama raja Kerajaan Pananjung adalah Prabu Anggalarang yang disebut dalam salah satu versi kisah sejarah sebagai keturunan Prabu Haur Kuning, raja pertama kerajaan Galuh Pangauban. Tapi Kerajaan Pananjung hancur diserang oleh para Bajo (Bajak Laut) karena tidak bersedia menjual hasil bumi kepada mereka. Penolakan Kerajaan Pananjung ini disebabkan pada saat itu situasi rakyat sedang dalam keadaan paceklik (gagal panen). 

Setelah Indonesia dijajah Belanda, adalah Y Everen (Residen Priangan) menjadikan Pananjung sebagai taman baru pada tahun 1922. Waktu itu terjadi penambahan penghuni taman dengan dilepaskannya seekor banteng jantan, tiga ekor sapi betina dan beberapa ekor rusa. 

Pananjung dijadikan suaka alam dan marga satwa pada tahun 1934, dengan luas 530 hektare. Penetapan ini berdasarkan alasan karena Panjanjung memiliki keanekaragaman satwa dan jenis–jenis tanaman langka, dan agar kelangsungan habitatnya dapat terjaga. Status Pananjung berubah menjadi cagar alam pada tahun 1961 setelah ditemukannya Bunga rafflesia padma. 

Sebagian kawasan Pananjung seluas 37,70 hektare dijadikan Taman Wisata pada tahun 1978, seiring dengan meningkatnya hubungan masyarakat dengan tempat rekreasi. Kawasan perairan di sekitarnya pada tahun 1990 dikukuhkan pula sebagai cagar alam laut (470,0 Ha), sehingga luas kawasan pelestarian alam seluruhnya menjadi 1000,0 hektare Pengusahaan wisata TWA Pananjung Pangandaran pada perkembangan selanjutnya berdasarkan SK. Menteri Kehutanan No. 104/KPTS-II/1993 diserahkan dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam kepada Perum Perhutani dalam pengawasan Perum Perhutani Unit III Jawa Barat, Kesatuan Pemangkuan Hutan Ciamis, bagian Kemangkuan Hutan Pangandaran.


Sejarah Asal Usul Pantai Karang Nini Pangandaran

 

Sejarah Asal Usul Pantai Karang Nini Pangandaran, Ada Kisah Cinta Sehidup Semati Dua Insan Manusia


 Pantai Karang Nini Pangandaran Jawa Barat
Pantai Karang Nini Pangandaran Jawa Barat 
 
 
Pantai Karang Nini merupakan salah satu andalan wisata yang mendatangkan ribuan pengunjung setiap tahunnya, Pantai Karang ini terletak di Kabupaten Pangandaran provinsi Jawa Barat.
 
Sebagaimana dilansir priangantimurnews.com dari Youtube Dongeng Kita, Kabupaten Pangandaran merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Ciamis pada tahun 2012.
 
Seperti banyak tempat lainnya di nusantara Pantai Karang Nini juga memiliki kisah asal-usulnya.
  
Pada zaman dahulu kala hiduplah sepasang suami istri yang sudah berusia lanjut, mereka adalah ki Argapati Ara dan Nini Ambu kolot meskipun hidup seadanya dan tidak mempunyai anak Ki Argapati Ara dan ini Abdul kolot menjalani hari-harinya dengan penuh bahagia.
 
Untuk memenuhi kebutuhan Ki Argapati Ara bekerja sebagai nelayan, setiap hari Ki argapati Ara berangkat melaut ketika malam tiba dan kembali Keesokan paginya.
 
Sebagian ikan ikan hasil tangkapannya dijual ke pasar dan sebagian lainnya dijadikan lauk pauk.
 
Sedangkan Nini Ambu kolot setiap harinya sibuk mengurus rumah, “sore itu badanku seperti kok agak lemas ucap” Ki Argapati Ara, “Kalau kurang sehat sebaiknya tidak usah melaut dulu ki tidak apa-apa” jawab ni Ambu Kolot,
 
“Lagipula persediaan beras kita sudah hampir habis” Ki Argapati Ara
 
“Baiklah Ki tapi kalau sudah capek cepatlah pulang Jangan terlalu memaksakan diri." katanya.
 
 Ki Argapati Ara pun Mendayung perahunya ke tengah laut, kondisinya yang tidak terlalu sehat membuat terlihat kelelahan.
 
Namun Ki Argapati Ara terus Mendayung perahunya, Ki Argapati Ara berhenti Mendayung, Dia kemudian melemparkan jalanya ke laut kosong tidak seekor ikan pun menyangkut di jalanya.
 
 Ki Argapati Ara melemparkan lagi jalanya ke laut dan masih kosong benar-benar tidak seekor ikanpun terlihat, Ki Argapati Ara tidak menyerah berulang kali dia melemparkan jalanya ke sana ke mari, namun sungguh sayang tidak seekor ikan pun yang terlihat dijalanya.
 
Hingga akhirnya Ki Argapati Ara mengalami Kelelahan yang amat sangat tak tertahan, pagi pun tiba pagi itu seperti pagi-pagi sebelumnya dunia.
 
Kesibukannya di dapur ini Ambu kolot menyiapkan sarapan untuk Ki Argapati Ara Yang sebentar lagi pulang,

Matahari sudah sampai di atas kepala namun Ki Argapati Ara belum juga pulang,Nini Ambu kolot mulai dilanda kecemasan, dia memutuskan pergi ke pantai disana dia melihat banyak perahu yang sudah berlabuh tapi tidak dengan perahu milik Ki Argapati Ara.
 
Seorang tetangga yang melihat ini Abu kolot mendatanginya, Ini Ambu Kolot tidak biasanya Nini siang-siang begini berada di pantai, aku mencari Ki Argapati Ara Apakah engkau melihatnya Ki.
 
 Ki Ageng hingga siang begini dia belum pulang tetangga nini Ambu kolot pun ikut cemas mengetahui sekarang Ki Argapati Ara belum pulang dari melaut padahal sudah lewat tengah hari.
 
Dia pun membantu bertanya kepada tetangga-tetangga lainnya, apa Ki Argapati Ara sebelum pulang kemarin malam aku melihat Ki Argapati Ara sepertinya kurang sehat dan lelah,
Kami akan mencari kayu bakar dan semoga saja dia hanya ketiduran di atas perahunya.
 
 Ini ambil Kaulah tahu bahwa tetangganya itu sedang menghibur hatinya yang cemas tapi bagaimanapun juga, kecemasan tidak bisa hilang dari hati ini Ambu dan bahkan semakin besar seiring perahu tetangganya yang berangkat mencari Ki Argapati Ara.
 
Ketika matahari hendak tenggelam di ufuk barat terlihat perahu tetangganya mulai merapat ke pantai, maafkan kami ni Ambu kami belum berhasil menemukan Ki Argapati Ara.
 
Angin terlalu kencang besok pagi-pagi sekali kami akan melanjutkan pencarian sebaiknya ini pulang dulu.
 
Angin semakin kencang tinggal Nini Ambu kolot seorang di pantai dengan cahaya yang semakin temaram tiba-tiba Nini Ambu kolot hidup bersimpuh, 
 
Ya Tuhan bawalah suami hamba, bulan Nini Ambu kolot terkejut melihat sebuah batu karang tiba-tiba muncul di depannya dan ini Ambu semakin terkejut ketika sebuah suara terdengar.
 
Dulu suamimu sudah meninggal dan batu karang ini merupakan penjelmaannya. Maka Nini Ambu Kolot yang merasa sedih atas kepergian suaminya itu hanya bisa menangis dia pun kemudian berdoa.

“Ya Tuhan aku terima ini sebagai Takdirmu tapi Buatlah aku menjadi batu karang di sini agar bisa menemani suamiku” ujarnya.
 
 Angin kencang tiba-tiba datang seketika, bener Nini Ambu kolot perlahan-lahan pun berubah menjadi batu.
 
Tuhan telah mengabulkan apa yang diminta oleh Nini Ambu kolot sejak itulah pantai tempat Nini Ambu kolot berubah menjadi batu karang itu dikenal dengan nama pantai Karang Nini sedangkan batu karang yang merupakan penjelmaan Ki Argapati Ara disebut dengan Balekambang.***
 

Petilasan 2 Penyebar Islam Pertama di Pangandaran

 Ziarah ke Petilasan 2 Penyebar Islam Pertama di Pangandaran

Petilasan kedua tokoh penyebar Islam di Pangandaran 



Berlokasi di Cagar Alam Pangandaran, ada dua makam yang ramai dikunjungi oleh peziarah. Konon itu adalah petilasan dari penyebar Islam pertama di Pangandaran.


Hal itu pun diketahui saat berkunjung ke Cagar Alam Pangandaran. Letak persisnya berada di pintu masuk Gua Parat atau Keramat yang ada di sisi kiri jalan.

Kedua makam itu tampak sangat biasa, dengan keramik berwarna biru dan dasar semen. Di salah satu makam pun ada tulisan 27 Djuli, yang entah apa maksudnya. Di saat itu pula ada sejumlah anak muda yang duduk dan berziarah di tepi makam.

Ketika tiba di depan makam, pemandu saya yang bernama Yahya pun menjelaskan akan kisah makam dua makam tersebut. Menurut cerita Yahya, kedua makam tersebut adalah petilasan dari dua penyebar Islam pertama di Pangandaran.

"Ini petilasannya Syekh Ahmad dan Syekh Mohamad, bukan makam, berasal dari Mesir, ke sini sambil berdagang mengikuti mata angin. Ternyata dia di Pangandaran mendaratnya," ujar Yahya.

Konon Syekh Ahmad dan Syekh Mohamad juga sering bersemadi di dalam Gua Parat. Namun ketika dicari masyarakat, kedua syeh menghilang tanpa diketahui rimbanya. Kemudian dibuatlah kedua makam yang jadi petilasan.

Sebelum datangnya kedua penyebar Islam tersebut, dahulu ada Kerajaan Hindu di Pangandaran. Hal itu diketahui dari situs Batu Kalde yang ada di sisi lain Cagar Alam Pangandaran.

"Ceritanya itu dulunya di sini ada Kerajaan Hindu, itu di situs Batu Kalde. Belum masuk Islam, sekarang kan sudah (Islam) di Pangandaran," terang Yahya.

Menariknya, ternyata kedua penyiar Islam tersebut juga memiliki petilasan di Cirebon. Disebutkan oleh Yahya, bahwa kedua penyiar Islam itu juga dikenal sebagai Syekh Kanoman dan Kasepuhan. Nama yang sama dengan dua keraton di Cirebon.

"Di Cirebon juga ada petilasannya, namanya ganti Syekh Kanoman sama Kasepuhan. Orangnya masih ini, makanya suka banyak orang ziarah ke sini," terang Yahya.

Jika ditelusuri, mungkin saja ada hubungan antara kedua Syekh dengan Sunan Gunung Jati di Cirebon. Oleh sebab itu, kedua makam yang adalah petilasan itu seringkali dikunjungi wisatawan.


Selasa, 02 Agustus 2022

STasiun Kalipucang - Pangandaran

 

Stasiun Kalipucang 


























Stasiun Kalipucang
KALIPUCANG
LokasiJalan Raya Kalipucang/Raya Banjar-Cijulang
KalipucangKalipucangPangandaranJawa Barat
Indonesia
PengelolaKereta Api Indonesia
Daerah Operasi II Bandung
Letak dari pangkal
Informasi lain
Kode stasiun
  • KLC
  • 1909
[2]
Sejarah
Dibuka15 Desember 1916
Ditutup1982














Stasiun Kalipucang (KLC) adalah stasiun kereta api nonaktif yang terletak di Kalipucang, Kalipucang, Pangandaran; termasuk dalam Wilayah Aset II Bandung.

Stasiun ini diresmikan bersamaan dengan pembukaan jalur kereta api Banjar–Cijulang pada 15 Desember 1916 untuk segmen Banjar–Kalipucang dan kemudian 1 Juni 1921 untuk Kalipucang–Cijulang.[3] Namun sayangnya jalur ini ditutup total pada 1 Februari 1982 karena kalah bersaing dengan mobil pribadi dan angkutan umum.[4]

Saat ini stasiun ini masih ada bangunannya, tetapi sudah rusak.

Mengenang Stasiun Pangandaran

 Mengenang Stasiun Pangandaran

Stasiun Pangandaran


Pangandaran - Eks bangunan Stasiun Kereta Api (KA) Pangandaran kini terbengkalai bak rumah hantu. Bangunan yang terletak di Dusun Bojongjati, Desa Pananjung, Kecamatan/Kabupaten Pangandaran itu kini mati tak berdaya.

Kondisi bangunan KA Pangandaran masih terlihat kokoh, tetapi bagian atapnya merosot termakan usia. Bangunannya mulai retak-retak.

Halaman depan Stasiun KA Pangandaran terdapat gerobak salah satu pedagang warga setempat. Penampakan stasiun sudah mirip tempat rongsokan.

Pada bagian stasiun yang terbuka dimanfaatkan warga untuk garasi mobil. Kemudian bagian depannya terdapat rumput ilalang dan tumpukan sampah.

Padahal, menurut warga setempat, dahulu Stasiun KA Pangandaran primadona wisatawan asing dan berjaya pada masanya.

"Dahulu sekitar tahun 80-an, saya sering jemput wisatawan di KA Pangandaran untuk menuju objek wisata Pantai Pangandaran," kata Anton (66) mantan pemandu wisata pada zamannya. Rabu (16/4/2022).

Stasiun Pangandaran

Menurutnya, keberadaan Stasiun KA Pangandaran sangat dirindukan warga setempat, apalagi menjadi alternatif kendaraan menuju objek wisata Pangandaran.


"Keberadaan Stasiun Pangandaran sebetulnya sangat strategis bagi denyut nadi kehidupan ekonomi warga setempat. Dari sisi sosial, budaya dan pariwisata," ucapnya.

Dijelaskan Anton, wisatawan asing dulu menjadikan Stasiun Pangandaran menjadi primadona. "Biasanya mereka berangkat naik kereta dari Jakarta atau Bandung sampai Stasiun Kota Banjar. Dari Banjar baru menumpang kereta api Banjar-Pangandaran," ungkap Anton.

Setelah tiba di stasiun, barulah wisatawan asing itu dipandu. Umumnya mereka diajak melihat-lihat aktivitas masyarakat di sekitar stasiun KA.

"Di daerah sekitar stasiun itu dulu banyak aktivitas warga yang bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan asing," ujar Anton.

Stasiun Pangandaran. (Foto: Aldi Nur Fadillah/detikJabar)
Misalnya, pabrik tahu dan tempe, pandai besi, anyaman dan lainnya. Bahkan keberadaan Pasar Pangandaran juga menjadi daya tarik bagi wisatawan asing. Tak sedikit yang gemar berkeliling di pasar untuk sekedar melihat-lihat dan memotret.

Mereka menyusuri perjalanan jelajah perkampungan itu dengan menumpang becak. "Kalau di tahun 70-an becak di Pangandaran masih sedikit, jadi biasanya pakai delman atau andong," tutur Anton.

Di antara para wisatawan asing itu, tak sedikit yang berasal dari Belanda. Mereka biasanya memiliki minat khusus terhadap keberadaan jalur kereta api Banjar-Pangandaran.

"Kalau wisatawan dari Belanda, apalagi yang keluarganya atau leluhurnya pernah bertugas di Indonesia, biasanya bukan ke pantai. Mereka lebih tertarik menyusuri bangunan ikonik lebih dulu. Kami jemput mereka di Stasiun Cijulang, kemudian balik lagi dengan mobil untuk melihat jembatan Cipamotan atau terowongan Wilhelmina. Setelah itu baru ke pantai," kata Anton.

Anton memaparkan, saat ini daya tarik Pangandaran bagi wisatawan mancanegara semakin pudar. Bukan karena pandemi COVID-19, karena tahun-tahun sebelum terjadi pandemi pun tingkat kunjungan wisatawan asing ke Pangandaran terus menurun.

"Sudah jarang sekali melihat turis jalan-jalan di Pangandaran. Memang ada segelintir, itu pun lebih banyak di Pantai Batukaras," kata Anton.

Stasiun Pangandaran

Seandainya jalur kereta api Banjar-Pangandaran ini diaktifkan kembali, apakah bisa mengembalikan daya tarik Pangandaran di mata wisatawan mancanegara? Anton pesimistis.

"Ya, kalau mau diaktifkan kembali setuju saja. Tapi kalau melihat kenyataan di lapangan rasanya pesimis. Hampir sepanjang jalur kereta api Banjar-Pangandaran sudah diduduki bangunan warga. Belum lagi besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Kalau saya lebih cenderung dibangun jalan tol saja dulu," ucapnya.

Terkait keberadaan stasiun, dia menyarankan untuk sementara bisa dijadikan museum mini untuk menceritakan sejarah jalur kereta Banjar-Pangandaran.

"Rawat dan manfaatkan bangunan yang tersisa. Kelak itu akan menjadi sangat berharga, sangat bersejarah lalu menjadi daya tarik wisata," pungkas Anton.

JALUR LINTAS PANTAI PANGANDARAN

  Jelang Liburan Lebaran, Jalur Lintas Pantai Pangandaran Jadi Daya Tarik 28 Maret 2023, 15:47 WIB SALAH satu spot jalur lintas pantai Panga...